Diambil dari Jurnal Nasional | Kamis, 5 May 2011
Ahmad Thonthowi Djauhari
Kombinasi teknologi dan kewirausahaan mendorong terciptanya kemakmuran ekonomi.

Ferry Dzulkifli Latief

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian TENOV

Beberapa pekan lalu saya menonton laporan tentang gelar hasil inovasi yang dilakukan PT Semen Gresik Tbk, di sebuah televisi swasta. Sebagai perusahaan nasional penguasa pasar semen, mereka berkepentingan untuk mempertahankan keunggulan melalui pengembangan bisnis yang inovatif baik di sisi produk maupun proses.

Sebelumnya, kira-kira empat bulan lalu, saya diundang oleh teman untuk mengikuti demo dan drive test Komodo, sebuah kendaraan jenis penjelajah dengan kapasitas (cc) kecil yang dibuat oleh para engineers dalam negeri. Menurut Ibnu Susilo, sang pembuat kendaraan ini, Komodo merupakan buah kerja keras dirinya dan rekan-rekannya untuk bisa tetap berkarya di bidang teknologi setelah keluar dari PT Dirgantara Indonesia. Saat ini PT. Fin Komodo Teknologi, perusahaan pembuat mobil Komodo telah memasuki fase bisnis, dengan teknologi yang dikembangkan telah siap dipasarkan.

Dalam tulisan ini, inovasi menjadi kata kunci pertama. Kosa-kata ini memberikan arti terhadap pertumbuhan, kemajuan dan daya saing bagi organisasi yang menginternalisasi dan mengimplementasikannya dalam kerja secara berkelanjutan. Dalam bukunya yang berjudul Innovation and Entrepreneurship, Peter F Drucker menjelaskan bahwa inovasi merupakan kerja sistematis yang mengubah sesuatu sehingga bernilai tinggi pada pasar yang ditargetkan. Dalam sebuah perusahaan, meskipun inovasi bukanlah faktor tunggal namun merupakan faktor yang paling signifikan dalam memengaruhi kinerja perusahaan.

Setidaknya ada tiga hal dalam inovasi. Pertama, adanya tindakan yang sistematis dan berkelanjutan. Inovasi diyakini dilakukan untuk menciptakan perubahan yang berkesinambungan. Perubahan sendiri tidak hanya dijalankan atau tercipta pada satu unit atau saja komponen saja. Adalah terlalu mahal bila inovasi dilakukan hanya untuk mengubah atau melibatkan satu unit dalam sebuah organisasi.

Kedua, inovasi dilakukan untuk menciptakan nilai tambah. Penciptaan nilai tambah dapat diberikan kepada pelanggan, karyawan, manajemen, pemegang saham, dan bahkan masyarakat sebagai bagian dari stakeholder. Perusahaan selain memiliki tugas untuk menciptakan keuntungan (profit), mereka juga memiliki tanggung jawab secara sosial kepada masyarakat (people) dan tanggung jawab lingkungan (planet) untuk terjadinya kesinambungan operasi.

Ketiga, inovasi dilakukan harus berorientasi pada pasar. Inovasi dilakukan bukan hanya untuk menjawab satu bagian pada satu waktu saja. Inovasi dilakukan dalam proses yang menjamin agar inovasi berikutnya tetap dapat dilakukan. Sesuatu yang diyakini dapat membuat inovasi berkelanjutan adalah bila terjadi komersialisasi produk inovasi.

Kata kunci kedua adalah technopreneurship. Kombinasi teknologi dan kewirausahaan mendorong terciptanya kemakmuran ekonomi. Teknologi yang pada awalnya dikembangkan untuk memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi manusia, dewasa ini semakin berkembang bukan hanya karena solusi yang ditawarkan, namun teknologi sendiri adalah sebuah bisnis.

Teknologi dimanifestasikan ke dalam produk, proses, dan sistem baru termasuk pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan untuk memberikan fungsionalitas yang bisa diproduksi lagi. Dengan demikian technopreneurship tidak hanya terjadi pada bisnis hard-technology namun juga soft-technology.

Karena terkait dengan kebaruan dari teknologi yang dihasilkan agar dapat menjadi sesuatu yang marketable, maka diperlukan inovasi pada teknologi itu sendiri. Beberapa riset empiris (Dodgson, Gann dan Salter, 2008) ditemukan bahwa:

- Industri dengan teknologi tinggi tumbuh lebih dari dua setengah kali lebih cepat daripada industri manufaktur kebanyakan.

- Nilai perdagangan barang berteknologi tinggi meningkat dua kali lipat.

- Inovasi teknologi berperan sangat signifikan dalam transformasi ekonomi di negara-negara Asia Timur.

- Pengembalian investasi di sektor research and development (R&D) secara konsisten dinyatakan masih tinggi , yakni masing-masing sebesar 56 persen berupa social returns dan 25 persen berupa 25 persen berupa private returns.

Technopreneurship mampu mendorong kegiatan bisnis yang baik yang menghasilkan maupun yang menggunakan teknologi untuk menciptakan ekonomi yang bernilai tambah lebih tinggi bahkan lebih berdaya saing.

Pemerintah, sebagaimana disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam ceramahnya pada Kuliah Umum di kampus ITS akhir tahun lalu, berkomitmen mendorong pengembangan inovasi dan pengembangan technopreneurship. Setahun lalu kita telah memiliki Komite Inovasi Nasional (KIN) yang terbentuk bersamaan dengan Komite Ekonomi Nasional (KEN). Kehadiran kedua lembaga ini sangat relevan guna menjawab isu-isu inovasi dan kewirausahaan.

Biarpun terbentuknya kedua lembaga ini diprakarsai pemerintah, namun yang perlu diperhatikan adalah –sebagaimana pengalaman-pengalaman di banyak negara– pelaku terbanyak inovasi dan kewirausaahan adalah sektor swasta. Peran pemerintah tetap penting khususnya dalam menyemai semangat di kalangan birokrasi, dan perbaikan layanan, seperti yang disebut David Osborne sebagai “reinventing government” (terjemahan bebas sesuai bukunya – mewirausahakan birokarasi).

Salah tugas KIN ialah membantu pemerintah menyusun Sistem Inovasi Nasional. Di negara-negara maju Sistem Inovasi Nasional telah mampu menuntun tercipatanya kebijakan-kebijakan yang propeningkatan daya saing, seperti kebijakan di bidang pendidikan, ekonomi, riset, dan pengembangan teknologi serta industri dan perdagangan.

Di Indonesia, kita memerlukan adanya kebijakan spesifik dalam Sistem Inovasi Nasional yang mampu mendorong pengembangan inovasi dan technopreneurship secara nasional. Pertama, kebijakan cluster industri. Seperti dikatakan Michael Porter, klaster industri mampu meningkatkan daya saing produk dalam lingkungan geografis tertentu, dengan menciptakan kolaborasi di antara pelaku yang berbeda.

Kemudian, kedua, kebijakan pengalokasian insentif fiskal. Kebijakan berupa tax credit pada kegiatan R&D mampu menjadi daya tarik agar perusahaan atau organisasi bersedia melakukan belanja R&D, yang dapat memicu keinovasian.

Ketiga, kebijakan menarik investasi di sektor R&D. Kebijakan ini mampu membuat Vietnam menjadi salah satu pusat pengembangan mikroprosesor Intel serta China dan India menjadi salah satu pusat pengembangan produk ABB, salah satu perusahaan terbesar di bidang teknologi otomasi dan listrik berpusat di Swiss.

Keempat, kebijakan yang dapat mendorong terwujudnya kemitraan segi tiga antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi. Di Beberapa negara model triple helix telah terbukti meningkatkan sinergi dalam inovasi teknologi.

Kita bisa bayangkan ke depan apa yang dilakukan oleh PT Semen Gresik dan Ibnu Susilo dengan Komodo-nya dapat segera dilakukan oleh banyak perusahaan dan pribadi karena tersedianya iklim yang sehat untuk berusaha dan berinovasi. Bila ini terwujud, tugas pemerintah akan lebih ringan karena akan ada lebih banyak perusahaan dan entrepreneur yang bisa mewujudkan kemakmuran. ***

 

Sumber Jurnas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: